Selasa, 26 Maret 2013

DINAMIKA MASYARAKAT

    
Tahun 2012 atau disebut-sebut sebagai tahun naga pada kalender cina, Tahun keberuntungan (prosperity). Namun secara riilnya keberuntungan itu abstrak dan tidak dapat ditentukan kapan datang dan pergi.
Menginjak tahun 2012 ini, rasanya ‘ampang’ kalau tidak membahas tentang globalisasi. Karena mungkin globalisasi menjadi faktor kita dalam mencari keberuntungan atau peluang-peluang untuk bangkit agar menjadi seperti yang kita inginkan. Mungkin pada benak kita bertanya-tanya : apa itu globalisasi sebenarnya ???. Mungkin ungkapan yang pas untuk mengekspresikan kata globalisasi adalah adanya proses input dan output secara signifikan. Masuknya pengaruh budaya, politik maupun ekonomi dari luar. Dengan ini menjadikan masyarakat ada dalam dua pihak yang bersebelahan. Ada beberapa yang pro dengan globalisasi maupun kontra dengannya, karena diprediksikan akan banyak perubahan dinamika-dinamika sosial dan ekonomi pada masyarakat.
Pada akhirnya, langkah dan proyek terbesar yang menjadi ‘Gong’ pada era globalisasi adalah pasar bebas, yang diprediksikan akan diberlakukan di indonesia pada tahun 2014 atau tahun-tahun selanjutnya. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah, yaitu modernisasi atau mensosialisasikan lifestyle atau gaya hidup yang cenderung pada masyarakat modern, agar masyarakat indonesia tidak kaget pada masa-masa mendatang. Yang dibuktikan dengan kebijakan-kebijakan bapak presiden Sulsilo Bambang Yudhoyono yang mengarahkan kita pada modernisasi.
Proses perubahan yang mengandung unsur modernisasi secara tidak langsung terdapat hal-hal positif dan negatif, mungkin yang akan kita rasakan hal positifnya adalah banyaknya informasi keluar-masuk, dengan ini kita akan menjadi lebih kritis dan kreatif dalam menanggulangi perubahan zaman. Namun dengan ini mungkin ada sebagian yang tidak bijak dalam menyikapi perubahan zaman atau menyalahgunakannya.
Para ashab buletin Al-Amin. sekarang tergantung kita, mana yang akan kita pilih. Menyikapinya dengan positif atau sebaliknya. Semoga bermanfaat dan kita dapat bertahan dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi. Wassalam.

BIAYA SOSIAL


       Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia di buat kaget, khususnya di daerah DKI Jakarta, bukan oleh serangan wabah DBD, bukan pula serangan teroris tetapi oleh rokok. Pasalnya Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso membuat kebijakan baru bertajuk larangan merokok di tempat umum. Yang membuat publik kaget, bukan karena larangannya, tetapi karena hukumannya yang setinggi langit, 50 juta dan kurungan 6 bulan.
                Keterkejutan publik, secara sosiologis layak di pahami. Alasannya, hingga kini, bahaya rokok di indonesia masih menjadi isu. Rokok pun masih menjadi favorit bagi sebagian masyarakat. Padahal pada tiap bungkus rokok sudah tertera bahaya-bahaya rokok tersebut, dan mayoritas perokok pun tau akan hal itu. Dari sisi kesehatan, bahaya rokok sudah tak terbendung lagi. Menurut WHO dan lebih dari 70 ribu penelitian ilmiah membuktikan hal itu. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat merangsang tumbuhnya kanker. Berbagai zat berbahaya itu adalah tar, karbon monoksida, dan nikotin.
                Dampak bahaya rokok memang antik dan klasik. Tidak ada orang mati mendadak karena merokok. Dampaknya tidak instan, beda dengan minuman keras dan narkoba. Dampak rokok akan terasa setelah 10-20 tahun pasca dikonsumsi. Anehnya, dampak asap rokok bukan hanya untuk si perokok aktif saja. Tapi juga berdampak serius bagi perokok pasif. Orang yang tidak merokok, tetapi terpapar asap rokok akan menghirup dua kali lipat racun yang di hembuskan pada asap rokok oleh si perokok. Sangat tidak adil, tidak merokok, tetapi malah menghirup racun dua kali lipat.
                Sungguh ironis, mayoritas perokok di indonesia adalah orang miskin. Menurut survei Bappenas (1995), orang miskin justru mengalokasikan 9% total pendapatannya untuk rokok. Betapa besar manfaatnya, jika dana itu di gunakan untuk kesehatan, pangan, atau pendidikan. Rokok memang memberikan kontribusi signfikan, berupa cukai, bayangkan, tahun 2004 cukai rokok sebesar 27 trilyun. Namun, semua itu sebenarnya hanya ilusi. Sebagai contoh jika pemerintah mendapatkan 27 trilyun, berapa biaya kesehatan yang di tanggung pemerintah dan masyarakat? Menurut data di berbagai negara dan indonesia, biaya kesehatan yang di tanggung pemeritah dan masyarakat sebesar 3 kali lipat dari cukai yang di dapat sekitar 81 trilyun.
                Cepat atau lambat, sebaiknya kita melakukan langkah jitu untuk penanggulangan bahaya rokok. Jika tidak, tidak mustahil berbagai penyakit yang di akibatkan rokok akan menjadi wabah yang sangat berbahaya. Jangan “menggadaikan” kesehatan anakbangsa, hanya karena takut kehilangan 27 trilyun, yang sebenarnya hanya ilusi dan jebakan maut belaka.

SEGELAS AIR


       Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakaan salah satu penguasa Dinasti Abbasiyyah  yang sangat tersohor, baik karena  watak beliau, keilmuan,  kebijakan, dan yang paling penting adalah.. kerja keras serta kegigihannya dalam memimpin alur pemerintahan. Selama masa pemerintahan beliau, Dinasti Abbasiyyah terus mengalami perbaikan,sehingga warga negara bisa hidup tentram, nyaman, dan makmur dalam zaman kejayaan. Selain itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid juga terkenal sebagai seorang Khalifah yang kaya raya, dan memiliki pelayan kerajaan yang sangat banyak jumlahnya. Dengan kekayaan berlimpah yang beliau miliki, pernah suatu hari beliau berkata,”Akulah orang terkaya di negeri ini”.,, hingga akhirnya suatu peristiwa penting terjadi.
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rasyid berangkat ke masjid untuk menunaikan Shalat Dzuhur berjamaah. Karena jarak antara masjid dan rumah beliau terbilang cukup jauh, beliau pun memutuskan untuk mengutus salah seorang pelayan menemaninya. Setelah berjalan jauh di bawah terik matahari yang tajam , beliau pun sampai di masjid dalam kondisi terengah-engah dan terlihat sangat letih. Meskipun demikian, beliau tidak begitu saja duduk untuk istirahat, yang ada beliau malah langsung shalat 2 rekaat dan beri’tikaf. Melihat kondisi tersebut, dengan tanpa disuruh si pelayan langsung bergegas mencari air minum untuk sang Khalifah. Di saat si pelayan pergi keluar masjid, berpapasanlah dia dengan orang tua berjubah putih, berjalan gontai dengan tuntunan tongkat yang selanjutnya duduk di samping kanan Khalifah. Pelayan pun membiarkan mereka berdua khusyuk beri’tikaf.
Selang beberapa saat, datanglah si pelayan Khalifah dengan membawa segelas air minum. Diletakkannya gelas itu di samping kiri Khalifah, dan langsung keluar masjid. Khalifah yang sedari tadi sudah merasa kehausan, perlahan meraih gelas itu.
Alhamdulillahhirabbil ‘aalamiin”, ucap Khalifah pelan sebelum meneguk air.
“Wahai Khalifah Harun Ar-Rasyid !”, sahut pak tua pelan menghentikan Khalifah.
“Sebelum Khalifah meminum air itu, bolehkan saya mengajukan sebuah pertanyaan?”, lanjut pak tua membuat Khalifah penasaran. Mendengar hal itu, Khalifah pun menaruh kembali gelas  yang sudah dipegangnya.
“Apa yang akan kau tanyakan wahai pak tua?”, tanya Khalifah.
“Khalifah, apa yang akan anda lakukan jika air segar dalam gelas itu tidak bisa  masuk ke dalam mulut anda?”, tanya pak tua ringan.
“Akan kukerahkan separuh kekayaanku untuk menyembuhkan penyakitku itu”, jawab Khalifah tegas.
“Lalu, seandainya air segar dalam gelas itu sudah masuk ke dalam perut anda, tapi selanjutnya tidak bisa anda keluarkan, apakah yang akan anda lakukan wahai Khalifah ?”, lanjut pak tua. Lagi – lagi Khalifah menjawab dengan tegas, “Akan kukerahkan separuh lagi kekayaanku untuk mengeluarkan air itu”. Mendengar jawaban Khalifah semacam itu, pak tua pun tersenyum sembari menatap raut muka Khalifah yang sedikit tidak stabil, dan berkata, “Wahai Khalifah, sadarilah,,,bahwa seluruh kekayaan anda yang berlimpah itu, hanyalah seharga segelas air putih ini (sambil mengangkat gelas)”.
Astaghfirullahhal ‘adziim, sontak Khalifah langsung menutup wajahnya dengan tangan gemetaran. Beliau menangis tersedu – sedu, bertaubat kepada Allah SWT.

Kepedulian Sosial dan Islam



Sedikit mengulas kembali mengenai sejarah hari kepedulian sosial. Tahun 1945 hingga tahun 1948, berlangsung peperangan yang mengakibatkan permasalahan sosial Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Pihak pemerinah lambat laun dapat memahami masalah-masalah ini.
Untuk menanggulangi permasalahan sosial tersebut diperlukan mitra kerja sosial dari unsur masyarakat. Oleh sebab itu, pada bulan Juli 1949 di kota Yogyakarta pihak pemerintah mengadakan pelatihan-pelatihan Sosial bagi tokoh-tokoh masyarakat dan Kursus Bimbingan Sosial bagi Pekerja Sosial, dengan harapan dapat  menanggulangi permasalah sosial yang sedang terjadi. (sumber: Artikel Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial RI)

Dengan semangat kebersamaan, kegotong royongan, dan bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan kedaulatan negara, masyarakat dapat mengatasi dan menanggulangi permasalan sosial yang timbul saat itu untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

Untuk melestarikan dan memperkokoh nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang telah tumbuh didalam masyarakat dan untuk meningkatkan kinerja serta mempersatukan para Sosiawan atau Pekerja Sosial, maka Kementerian Sosial membuat Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik atau Sikap Sosiawan. Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik Sosiawan diciptakan pada tanggal 20 Desember 1949, tepat satu tahun dari peristiwa bersejarah bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan keutuhan negara, yaitu pada tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah tentara kolonial Belanda menyerbu dan menduduki ibukota negara yang pada saat itu Yogyakarta. Hari tanggal tersebut dinamakan sebagai HARI SOSIAL.

Ada salah satu kisah kepedulian sosial yang terjadi pada masa Rasulullah yang di kutip dari salah satu artikel yang ditulis oleh Nadirsyah Hosen (dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)Nabi bertemu dengan seorang sahabat yaitu Sa’ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?” Sa’ad menjawab, “tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Nabi yang mulia berkata, “ini tangan yang dicintai Allah,” seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. MasyaAllah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh.

Kisah di atas menunjukan betapa besar rasa kepedulian Rasulullah kepada sahabat Sa’ad al-Anshari. Rasa kepedulian beliau, rasa kesosialan beliau sungguh menjadi suri tauladan baik bagi kita semua.

Edisi VII










Edisi XVII