Tampilkan postingan dengan label KEDAI SUFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEDAI SUFI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Membuat Rumah Menjadi Lebih Luas



Suatu hari ada seorang laki-laki yang berkunjung ke rumah Abunawas untuk berkonsultasi, kebetulan saat itu Abu Nawas sedang berada di rumah. Kemudian laki-laki itu mengutarakan keluhannya.
“Wahai Abunawas, aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia.”
Kemudian Abu Nawas bertanya kepada orang itu. “Punyakah engkau seekor domba?
“Tidak, tapi aku mampu membelinya.” Jawab lelaki itu.
“kalau begitu belilah seekor dan tempatkanlah domba itu dalam rumahmu.” Abu Nawas menyarankan.
        Ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abu Nawas. Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi tambah lebih buruk daripada sebelumnya.” Keluh orang itu.
“Kalau begitu tambahkan lagi beberapa ekor unggas kedalam rumahmu.” Kata Abu Nawas menyarankan.
        Tanpa membantah, orang itu langsung membeli beberapa ekor unggas dan menempatkannya dalam rumah. Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melakukan semua yang kau sarankan, tetapi aku dan keluargaku malah tidak betah tinggal di rumah.” Kata orang itu dengan wajah muram.
“Kalau begitu belilah seekor unta dan peliharalah di dalam rumahmu.” Kata Abu Nawas menyarankan.
Tanpa membantah orang itu langsung membeli seekor unta dan menempatkannya di dalam rumah. Beberapa hari kemudin orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang berubah menjadi lebih mengerikan dari hari-hari sebelumnya. kami sudah tidak betah tinggal bersama hewan-hewan itu.” Kata orang itu putus asa.
“Baiklah, jika kalian sudah merasa putus asa maka juallah dombamu.” Kata Abu Nawas.
        Tanpa membantah orang itu langsung menjual dombanya.  Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.
“Keadaannya lebih baik sekarang, karena domba itu sudah tidak disini lagi.” Kata orang itu tersenyum.
“Baiklah kalau begitu juallah unta dan unggas-unggasmu.” Kata Abu Nawas.
Tanpa membantah orang itu langsung menjual unta dan unggas-unggasnya. Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu lagi.
“Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.
“Keadaannya lebih menyenangkan sekarang, karena unta dan unggas-unggas itu sudah tidak disini lagi. Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena hewan-hewan itu sudah tidak ada disini lagi. Kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepadamu Abu Nawas.” Kata orang itu dengan wajah berseri-seri.
        Dari cerita ini dapat kita ambil bahwa batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiran kita saja. Kalau saja kita selalu bisa bersyukur atas nikmat dan karunia Allah, maka Allah akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiran kita.


Penulis : M. Adam Abdullah
 

Rabu, 27 Maret 2013

HEGEMONI BARAT TERHADAP CITRA ISLAM

     
Proses dakwah yang dilakukan oleh agama islam adalah menyeru kepada kalimatullah yang Haq dengan cara yang paling baik ”ud’u billatī hiya aḥsan” dan dengan tanpa paksaan ”lā ikrāha fī d-dīn” dari sinilah, islam mulai dikenal dengan agama yang sempurna. Sejarah mencatat tidak ada satu peperangan pun yang dilakukan dengan tujuan penyebaran Islam secara paksa kepada suatu kaum. Melainkan peperangan yang terjadi adalah untuk mempertahankan diri dari serangan orang-orang kafir yang tidak menghendaki keberadaan Islam. Sejarah inilah yang dikaburkan oleh Barat saat ini, dengan penuh kedengkian dan api permusuhan, Barat memutarbalikan sejarah peradaban Islam.
Seperti pada peristiwa Perang Salib. Perang salib pada hakikatnya bukan merupakan perang agama, melainkan perang yang memperebutkan kekuasaan daerah. (wikipedia.com) Barat (Eropa) menuduh Islam, bahwasannya Islam lah yang trlebih dahulu memerangi dengan pedang. Barat menganggap ekspansi perluasan wilayah Islam adalah Penjajahan Islam terhadap bangsa-bangsa lain. Namun kenyataanya tidak seperti itu. Dalam hal ini alangkah baiknya merenungkan firman Allah Swt: walantarḍā ’anka l-yahūdu wala n-naṣarā ḥattā tattabi’a millatahum. Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwasannya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha terhadap umat Islam sehingga umat islam mengikuti ajaran mereka.
Sebagai umat islam, tidak seharusnya kita berpikir pendek dengan hanya memandang satu sisi saja. Meskipun kita dihegemoni negara barat tapi kita harus banyak belajar dari mererka, contohnya dalam masalah ekonomi, Barat adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi dan pekerja keras. Dalam satu hari, orang Barat mampu bekerja selama 11 jam, pada hal kita saja yang bekerja 8 jam sehari sudah merasa berat.
Seandainya ibadah, tauhid, dan akhlaq kita digandengkan dengan etos kerjanya orang Barat, maka saya kira, itulah yang dimaksud oleh hadist Rosulullah SAW: “Berkerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau hidup selamanya; dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.” 




Selasa, 26 Maret 2013

SEGELAS AIR


       Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakaan salah satu penguasa Dinasti Abbasiyyah  yang sangat tersohor, baik karena  watak beliau, keilmuan,  kebijakan, dan yang paling penting adalah.. kerja keras serta kegigihannya dalam memimpin alur pemerintahan. Selama masa pemerintahan beliau, Dinasti Abbasiyyah terus mengalami perbaikan,sehingga warga negara bisa hidup tentram, nyaman, dan makmur dalam zaman kejayaan. Selain itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid juga terkenal sebagai seorang Khalifah yang kaya raya, dan memiliki pelayan kerajaan yang sangat banyak jumlahnya. Dengan kekayaan berlimpah yang beliau miliki, pernah suatu hari beliau berkata,”Akulah orang terkaya di negeri ini”.,, hingga akhirnya suatu peristiwa penting terjadi.
Suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rasyid berangkat ke masjid untuk menunaikan Shalat Dzuhur berjamaah. Karena jarak antara masjid dan rumah beliau terbilang cukup jauh, beliau pun memutuskan untuk mengutus salah seorang pelayan menemaninya. Setelah berjalan jauh di bawah terik matahari yang tajam , beliau pun sampai di masjid dalam kondisi terengah-engah dan terlihat sangat letih. Meskipun demikian, beliau tidak begitu saja duduk untuk istirahat, yang ada beliau malah langsung shalat 2 rekaat dan beri’tikaf. Melihat kondisi tersebut, dengan tanpa disuruh si pelayan langsung bergegas mencari air minum untuk sang Khalifah. Di saat si pelayan pergi keluar masjid, berpapasanlah dia dengan orang tua berjubah putih, berjalan gontai dengan tuntunan tongkat yang selanjutnya duduk di samping kanan Khalifah. Pelayan pun membiarkan mereka berdua khusyuk beri’tikaf.
Selang beberapa saat, datanglah si pelayan Khalifah dengan membawa segelas air minum. Diletakkannya gelas itu di samping kiri Khalifah, dan langsung keluar masjid. Khalifah yang sedari tadi sudah merasa kehausan, perlahan meraih gelas itu.
“Alhamdulillahhirabbil ‘aalamiin”, ucap Khalifah pelan sebelum meneguk air.
“Wahai Khalifah Harun Ar-Rasyid !”, sahut pak tua pelan menghentikan Khalifah.
“Sebelum Khalifah meminum air itu, bolehkan saya mengajukan sebuah pertanyaan?”, lanjut pak tua membuat Khalifah penasaran. Mendengar hal itu, Khalifah pun menaruh kembali gelas  yang sudah dipegangnya.
“Apa yang akan kau tanyakan wahai pak tua?”, tanya Khalifah.
“Khalifah, apa yang akan anda lakukan jika air segar dalam gelas itu tidak bisa  masuk ke dalam mulut anda?”, tanya pak tua ringan.
“Akan kukerahkan separuh kekayaanku untuk menyembuhkan penyakitku itu”, jawab Khalifah tegas.
“Lalu, seandainya air segar dalam gelas itu sudah masuk ke dalam perut anda, tapi selanjutnya tidak bisa anda keluarkan, apakah yang akan anda lakukan wahai Khalifah ?”, lanjut pak tua. Lagi – lagi Khalifah menjawab dengan tegas, “Akan kukerahkan separuh lagi kekayaanku untuk mengeluarkan air itu”. Mendengar jawaban Khalifah semacam itu, pak tua pun tersenyum sembari menatap raut muka Khalifah yang sedikit tidak stabil, dan berkata, “Wahai Khalifah, sadarilah,,,bahwa seluruh kekayaan anda yang berlimpah itu, hanyalah seharga segelas air putih ini (sambil mengangkat gelas)”.
“Astaghfirullahhal ‘adziim”, sontak Khalifah langsung menutup wajahnya dengan tangan gemetaran. Beliau menangis tersedu – sedu, bertaubat kepada Allah SWT.

Kepedulian Sosial dan Islam



Sedikit mengulas kembali mengenai sejarah hari kepedulian sosial. Tahun 1945 hingga tahun 1948, berlangsung peperangan yang mengakibatkan permasalahan sosial Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Pihak pemerinah lambat laun dapat memahami masalah-masalah ini.
Untuk menanggulangi permasalahan sosial tersebut diperlukan mitra kerja sosial dari unsur masyarakat. Oleh sebab itu, pada bulan Juli 1949 di kota Yogyakarta pihak pemerintah mengadakan pelatihan-pelatihan Sosial bagi tokoh-tokoh masyarakat dan Kursus Bimbingan Sosial bagi Pekerja Sosial, dengan harapan dapat  menanggulangi permasalah sosial yang sedang terjadi. (sumber: Artikel Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial RI)

Dengan semangat kebersamaan, kegotong royongan, dan bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan kedaulatan negara, masyarakat dapat mengatasi dan menanggulangi permasalan sosial yang timbul saat itu untuk mencapai kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

Untuk melestarikan dan memperkokoh nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang telah tumbuh didalam masyarakat dan untuk meningkatkan kinerja serta mempersatukan para Sosiawan atau Pekerja Sosial, maka Kementerian Sosial membuat Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik atau Sikap Sosiawan. Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik Sosiawan diciptakan pada tanggal 20 Desember 1949, tepat satu tahun dari peristiwa bersejarah bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan keutuhan negara, yaitu pada tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah tentara kolonial Belanda menyerbu dan menduduki ibukota negara yang pada saat itu Yogyakarta. Hari tanggal tersebut dinamakan sebagai HARI SOSIAL.

Ada salah satu kisah kepedulian sosial yang terjadi pada masa Rasulullah yang di kutip dari salah satu artikel yang ditulis oleh Nadirsyah Hosen (dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)Nabi bertemu dengan seorang sahabat yaitu Sa’ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?” Sa’ad menjawab, “tangan ini kupergunakan untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Nabi yang mulia berkata, “ini tangan yang dicintai Allah,” seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu. MasyaAllah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh.

Kisah di atas menunjukan betapa besar rasa kepedulian Rasulullah kepada sahabat Sa’ad al-Anshari. Rasa kepedulian beliau, rasa kesosialan beliau sungguh menjadi suri tauladan baik bagi kita semua.