Senin, 27 Mei 2013

2012 to 2013



Arus perubahan sosial budaya yang ditandai dengan perubaahan nilai terbukti telah membawa implikasi yang beragam bagi kehidupan manusia.Modernisasi hampir dilakukan disetiap negara berkembang seperti Indonesia, ditambah dengan pesatnya ilmu teknologi dan komunikasi. Di satu sisi memang membawa kesejahteraan dan kemudahan hidup bagi manusia, akan tetapi pada saat bersamaan modernisasi yang kebablasan dan tidak terkontrol mengakibatkan masyarakat hidup tanpa wajah kemanusiaan. Pola hidup masyarakat menjadi sangat individualis,konsumtif dan menjadi budak dari “berhala-berhala modern”. Wibawa agama terdegadrasi menjadi kekuatan sekunder yang dipandang dengan sebelah mata. Pertalian sosial menjadi kendor, persaudaraan sejati menjadi longgar, sebaliknya terjadi kekerasan dan disintegrasi sosial.
Di akhir tahun ini sebaiknya kita merivitalisasi peran agama dalam arus modernisasi dan globalisasi. Terdapat dua peran sosiologis agama yang perlu dikembangkan. Peran pertama, agama ditempatkan sebagai referensi utama dalam proses perubahan. Peran yang kedua, agama diyakini sebagai kekuatan daya tahan bagi masyarakat ketika berada dalam lingkaran persoalan kehidupan yang semakin kompleks ditengah arus perubahan. Berdasarkan peran tersebut, agama menjadi daya dorong luar biasa bagi terciptanya perubahan ke arah corak yang konstruktif bagi masa depan umat manusia.
Dua peran agama tersebut harus didukung oleh peningkatan pendidikan agama untuk mensosialisasikan dan menyalurkan nilai-nilai keagamaan dalam realitas kehidupan masyarakat, yang menyangkut aspek etika, moral dan spiritual. Pendidikan agama diharapkan tidak hanya mempertahankan kemapanan dogmatika agama, tetapi pendidikan agama yang memiliki niali fungsional dengan problem kemasyarakatan dan kemanusiaan.
Kesimpulan yang mendasar dari paparan diatas adalah kita harus lebih instropeksi diri untuk melangkah ketahun selanjutnya. Dan juga sebagai modal untuk melangkah ketahun selanjutnya. Karena manusia memiliki potensi kreatif yang tak terhingga untuk merancang hari kedepan.

Dunia rindu keharmonisan umat



        Ternyata air lautan saat ini sudah tak asin lagi. Ibu ayam itupun sudah enggan untuk melindungi induknya yang masih belia. Sudah tak bisa dipungkiri lagi, rakyat dunia kini dilanda krisis manusia/sumber daya yang berjiwa sosial tinggi, peka terhadap lingkungan-lingkungan sekitar yang di wujudkan dengan turunnya hasrat kepedulian terhadap sesama.
                Dunia hanya bisa diam membisu, kecewa akan sikap-sikap makhluk dunia yang perlahan menghilangkan identitas aslinya yaitu sebagai “makhluk sosial”.
                Bisa di buktikan, dari permasalahan-permasalahan kecil bahkan sampai yang besar sekalipun yang ada di sekitar kita hanya bisa menjadi pembisu sejati, seolah tak peduli apa yang telah terjadi.
                Kekerasan rumah tangga, kekerasan di sekolah, perzinaan, hilangnya moralitas dan akhlak remaja, bahkan kekerasan internasional di gaza, libya dan kelaparan di negara somalia, sedah hanya sebagai hiasan dunia saja.Lalu, kalau sudah seperti itu, siapakah yang mau bertanggung jawab ? siapakah yang patut untuk disalahkan ?
                Yang terjadi pada diri kita saat ini adalah saling menyalahkan orang lain, saling lempar tanggungjawab, kurangnya intropeksi untuk diri kita.
                Tidak ada yang patut untuk disalahkan, karena sebenarnya permasaahn sosial seperti itu bukan hanya tugas kepala sekolah, bukan hanya tugas kepala desa, bukan tugas para kyai, juga bukan tugas pemerintah. Melainkan itu semua adalah tugas kita bersama, itulah sebenarnya yang harus kita sadari.
                Seperti sabda nabi yang artinya : kalian semua adalah pemimpin dan kalianpun akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu pimpin. Hadist ini sudah jelas-jelas mengajarkan kepada kita bahwa kita semua adalah pemimpin, minimal adalah memimpin diri kita sendiri.
                Jadi bukan hanya mereka yang punya jabatan, bukan hanya mereka yang punya banyak pengetahuan yang bertusa untuk membuat lingkungan menjadi damai, aman, dan tentram juga memiliki solidaritas sosial yang tinggi terhadap sesama, tapi itu semua adalah tugas kita semua, umat manusia.

PERAN PENDIDIKAN ASWAJA DALAM LINGKUP MASYARAKAT


NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia tidak lepas peranannya dalam bidang pendidikan islam di indonesia. Salah satunya yakni pendidikan Ahlussunnah wal jama’ah atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan pendidikan ASWAJA. Pendidikan ASWAJA itu tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama saja namun juga mengajarkan nilai moral.
Pendidikan ASWAJA dikembangkan sebagai nilai pendidikan islam di indonesia. Disamping itu pendidikan ASWAJA muncul karena kebutuhan masyarakat indonesia. Yaitu pendidikan agama dan moral.
 Hal diatas dapat dibuktikan dengan keadaan bangsa yang kita rasakan sekarang. Dewasa ini banyak anak cucu kita yang meniru budaya barat. Misalnya, berpakaian yang mengundang hawa nafsu, pergaulan bebas dll . Hal itu membuktikan bahwasannya nilai agama dan nilai moral generasi penerus bangsa ini melemah. Akan tetapi, permasalahan tersebut adalah bagaimana jika para orang tua lemah dalam nilai-nilai agama dan moralitas. Sehingga tak ada contoh bagi pemuda bangsa untuk memperbaiki moral?
Pendidikan Aswaja muncul sebagai jawaban dari pertanyaan diatas. Pendidikan aswaja mempunyai kelebihan, salah satunya: pendidikan aswaja tidak hanya ditujukan ke lembaga pendidikan saja namun juga di tujukan kepada masyarakat luas, hal ini dapat memperkuat aspek agama maupun moralitas masyarakat. Misalnya acara pengajian rutin yang di isi oleh ulama’ , hal itu sangat baik untuk meningkatkan nilai-nilai agama dalam masyarakat.
Hal lain yang istimewa dari pendidikan aswaja adalah: pendidikan yang lebih dikonsentrasikan pada lembaga pendidikan islami atau dapat disebut pondok pesantren. Hal itu dapat membantu kita selaku orang tua supaya anak cucu kita dapat mengenal nilai-nilai agama dan moral.




           

Minggu, 26 Mei 2013

Islam humanisme


Setiap orang islam yang taat menjalankan ajaran agamanya atau santri dan yang sadar akan tugas dan kewajiban keagamaanya, maka bisa dipastikan syariat atau ajaran islam sebagai sumber utama dan satu-satunya kebenaran dan tata nilai hidupnya, baik secara pribadi,keluarga,bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dilandasi dengan keyakinan bahwa tata nilai yang berasal dari sang pencipta pasti mutlak benarnya dan paling cocok untuk makhluknya, maka mereka akan senantiasa berusaha sekuat tenaga agar tata nilai kehidupan dari Allah ini menjadi tata nilai kehidupan manusia.
Islam adalah agama kemanusiaan. Oleh karena itu umat islam harus mengakui sepenuhnya kepada kemanusiaan. Kita tidak boleh serta-merta mengatas namakan agama sebagai dasar untuk melakukan tindak kekerasan, atau memaksakan agama terhadap orang lain. Pehaman agama sangat tergantung pada kapasitas intelektual dan tantangan zaman yang dihadapi serta kemampuan seseorang dalam mengamalkanya. Oleh karena itu, pemahaman agama jelas bersifat relatif.
Dewasa ini banyak tindak kekerasan yang mengatas namakan agama untuk mengklaim kebenaran sepihak untuk saling bunuh-membunuh. Ini disebabkan karena agama selalu mengajarkan kasih sayang yang luhur, sementara agama sendiri memicu untuk terjadi konflik.
Oleh karena itu sebaiknya beragama merupakan suatu proses pencarian kebenaran yang terus menerus. Selain itu, beragama juga bersifat terbuka mau menerima keberadaan agama lain, serta mau untuk menerima pendapat dan kritik dari orang lain.
Kesimpulan yang mendasari dari uraian tersebut, yakni sebaiknya bergama berprinsip pada al-hani fiyyah, al-sam’ah, semangat kebenaran serta perasaan lapang dada. Karena untuk mengungkap kebenaran sejati adalah tugas Allah dan tugas manusia hanyalah menghargai sesama manusia.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      

Kooptasi Pluralitas



Menyadari tentang pluralitas (kemajemukan) masyarakat Indonesia, dan meyakininya sebagai sunnatullah. Pluralitas masyarakat yang menyangkut agama, etnis dan budaya adalah sebuah kenyataan dan rahmat dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah.
Islam memberikan jaminan dan toleransinya dalam memelihara hubungan bersama dengan meletakkan nilai-nilai universal, seperti prinsip keadilan, kebersamaan, dan kejujuran dalam memelihara kehidupan bersama dengan tidak mengingkari adanya perbedaan dalam hal-hal tertentu.
Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurot disebutkan bahwa sesungguhnya kita memang diciptakan dengan bersuku-suku dan bangsa agar saling mengenal satu sama lainya. Ini merupakan konsep dasar Qur’an dalam menanggapi perbedaan. Perbedaan merupakan rahmat Tuhan yang patut kita syukuri. Dan sikap Islam sendiri terhadap perbedaan bukanlah saling tidak peduli dan tidak mau tahu, melainkan harus saling menyangi dan menghormati. Demi terwujudnya rasa persatuan.
Rasa persatuan dalam kehidupan sosial, khususnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan salah satu hal yang diperlukan dalam kehidupan individu ataupun masyarakat. Dengan begitu berbagai tantangan yang mengganggu kehidupan sosial dan stabilitas nasional bisa diminimalisir.Sehingga rasa persatuan akan menjadikan perbedaan dalam masalah dalam masalah suku,ras, maupun agama sebagai rahmat bukan bencana. Sebeda apapun sebenarnya bukan masalah, jika komunitas manusia ini sadar dan memahami makna kasih sayang Tuhan.


Kedermawaan


Di kisahkan, ketika Abdullah bin Mubarak beribadah haji ia tertidur di dekat Hijir Ismail dan bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Beliau berkata kepadanya: “Bila kamu pulang ke Baghdad, maka datanglah  ke suatu desa dan carilah seorang Majusi bernama Bahram, sampaikan salamku padanya dan katakana, bahwa Allah Swt. Telah memberi ridha padanya.”
        Dia terbangun dan membaca hawqlah :

Ia menganggap bahwa mimpi itu dari setan. Kemudian ia mengambil wudhu, shalat dan thawaf mengelilingi ka’bah. Karena kelelahan ia tertidur dan bermimpi lagi seperti itu sampai tiga kali.
        Setelah sempurna menunaikan ibadah haji,Abdullah pulang ke Baghdad dan mencari desa yang di sebutkan oleh Rasulullah Saw. Dalam mimpinya itu. Sesampainya di desa itu ia bisa bertemu dengan seorang lelaki tua yang bernama Bahram. Ia bertanya :
        “Apakah kamu mempunyai sesuatu yang baik menurut Allah?”
        Bahram menjawab: “Ya, saya punya. Saya punya empat orang anak perempuan yang saya kawinkan dengan empat orang anak laki-laki saya.”
“Hal itu haram hukumnya, adakah sesuatu yang lain?”
“Ya. Saya mengadakan resepsi pada saat perkawinan anak-anak saya itu.”
        “Hal itu haram hukumnya, coba ceritakan yang lain lagi?”
        “Ya. Saya punya seorang anak perempuan satu lagi. Anak saya yang satu ini sangat cantik, sehingga saya kesulitan mencarikan suami yang sebanding dengannya. Akhirnya saya kawini sendiri.”
        “Hal itu juga haram. Mungkin ada sesuatu yang lain lagi?”
        “Ya. Pada saat pertama kali saya menyetubuhi anak saya hadir lebih seorang lebih dari seribu orang Majusi, menyaksikan persetubuhan itu.”
        “Hal itu juga haram. Coba ceritakan yang lain lagi.”
        “Ya, suatu malam sa’at saya menggauli anak saya, dating seorang perempuan Muslimah menyalakan lampu dirumahku lalu keluar rumah dengan mematikannya lebih dulu. Tingkah laku seperti itu diulangi sampai tiga kali. Aku berfikir perempuan itu mungkin mata-mata pencuri. Akhirnya kuikuti perempuan itu sampai dirumahnya. Ternyata dia punya banyak anak perempuan di rumahnya. Anak-anak itu bertanya kepada ibunya, apa ia membawa sesuatu untuk di makan, karena mereka sudah tidak tahan lagi menahan lapar. Mendengar pertanyaan anak-anaknya itu air mata matanya menetes dan mengatakan kepada mereka, bahwa ia  malu kepada Allah untuk meminta kepada selain-Nya. Apalagi kepada orang Majusi yang menjadi musuh Allah. Melihat keada’an yang menyedihkan itu, saya pulang. Saya mengambil sebuah nampan(baki) lalu kupenuhi dengan berbagai makanan dan kubawa sendiri ke rumah perempuan itu.”
        Mendengar cerita paling akhir itu, Abdullah berkata: “Ya. Itu merupakan amal baikmu. Ada kabar gembira untukmu yang kudapat dalam mimpiku.”
        Ia menceritakan pertemuannya dan percakapannya dengan Rasulullah Saw. Dalam mimpinya itu kepada Bahram. Lelaki Majusi itu gembira dan saat itu juga ia membaca syahadat, masuk islam. Ketika Bahram mati, Abdullah memandikannya, mengkafaninya, menyalatinya dan menguburkannya secara islami.
        Sejak itu Abdullah selalu menyerukan kepada hamba-hamba Allah agar mau mendermakan hartanya, karena kedermawanan akan mengubah seseoang dari status musuh Allah menjadi kekasih Allah.

Haji Bukan Bentuk Paganisme


Setelah berbagai bentuk peribadatan yang tergabung dalam untaian suci Ramadhan dan Syawwal, tidak lama lagi gawe besar islam yang selanjutnya pun tiba. Agenda tahunan yang telah terencana secara matang, bahkan tidak sedikit negara muslim yang berinisiatif membentuk organisasi, yang bergerak khusus menangani acara tersebut. Ada yang tahu agenda apakah itu,,,, ?
Ya, benar! Tidak lain dan tidak bukan adalah “Haji”.
Sebagai umat islam tulen, tentunya “Haji” bukanlah hal yang asing bagi kita. Meski mayoritas belum pernah menjalani, namun setidaknya melalui fasilitas media canggih masa kini, bisa cetak ataupun elektronika audiovisual semacam tv, gambaran umum mengenai realisasi dari pelaksanaan haji sudah dapat dikantongi. Di samping itu, penjelasan tentang haji pun biasanya diterangkan dengan panjang lebar oleh para tokoh agama di daerah kita, terutama yang pernah melaksanakan ibadah haji.
Sekilas Haji
Haji secara harfiah bermakna menyengaja.   Sedangkan secara syara’, haji berarti menyengaja berkunjung ke Baitullah dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam sistematika rukun islam, haji termasuk rukun terakhir yang diwajibkan bagi umat islam. Namun perlu diperhatikan, bahwa beban taklifi yang terakhir ini baru akan diembankan kepada seseorang yang telah memenuhi syarat-syarat wajib haji yang jumlahnya ada 7. Diantaranya adalah beragama islam, baligh, berakal (sehat jasmani/rohani), memiliki kendaran (bagi orang yang jauh dari tanah haram lebih dari 2 marhalah), dan didukung dengan situasi lingkungan yang aman. Selain paparan syarat wajib tersebut, dalam haji pun ditentukan rukun-rukun yang akrab kita kenal dengan sebutan rukun haji. Diantaranya ada 4, yaitu ihram sembari niat haji, wukuf di tanah Arafah, thawaf di Baitullah, dan sa’i/lari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Itulah haji, amalan sakral yang kian waktu kian digandrungi oleh umat muslim seluruh dunia.
Disayangkan, kesakralan itu pernah sedikit terusik dengan munculnya opini tak berdasar yang menyatakan bahwa,”Thawaf dalam pelaksanaan haji, tak ubahnya seperti upacara pagan yang dijalani oleh umat zaman jahiliyah. Apalagi ritual sa’I antara Shafa dan Marwah, yang juga serupa dengan apa yang  telah dilakukan oleh kaum jahiliyah sebelum Muhammad”.  Bagaimana sikap kita menghadapi tantangan semacam itu, yang jelas-jelas dimaksudkan untuk memecah belah umat islam?
Bukan Paganisme
Secara historis, kaum jahiliyah pra-kenabian Muhammad memang pernah menjadikan tempat-tempat yang sekarang ini digunakan ritual haji, sebagai tempat pemujaan. Dan sudah menjadi adat mereka untuk berlari kecil antara Shafa dan Marwah sambil berteriak memuja-muja berhala. Sehingga paska kerosulan Muhammad yang selanjutnya muncul kewajiban melakukan haji, dianggap sebagai amalan yang tidak ada bedanya dengan adat jahiliah.
Presepsi semacam itulah yang sebenarnya perlu diluruskan. Memang terkadang ada benarnya, jika dikatakan bahwa sesuatu yang ada setelah terwujudnya hal serupa sebelumnya, berarti dianggap plagiat. Namun, konteks haji di sini berbeda,  Ia  termasuk dalam bagian rukun islam adalah karena diperintahkan oleh Allah demikian, dan bukan akal-akalan semata. Di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat ; 158 disebutkan
اان الصفا و المروة من شعائر الله
Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian diantara tanda agama Allah.
Jadi, selama suatu opini yang muncul tidak memiliki dasar yang kuat, apalagi yang bersumber dari orang yang ilmu agamanya kurang atau bahkan yang non-muslim, seyogyanya kita tidak perlu cemas. Apalagi ikut terpengaruh mengakafirkan ribuan bahkan jutaan jamaah haji di tanah suci. Sebaliknya, kita harus bersikap tenang dan bijak dalam menyikapi masalah baru terutama yang menyangkut khalayak ramai. Dan di dalam konteks haji ini, Allah SWT berfirman
فول وجهك شطر المسجد الحرام
Hadapkanlah dadamu kea rah Masjidil Haram.
Dengan demikian, semua ritual itu sebenarnya adalah wujud dari taat kita kepada Allah SWT Tuhan semesta alam. Untuk sebagian orang yang terlihat berlebihan dalam mengagungkan ka’bah, mereka sebenarnya hanyalah menerapkan konsep tabarruk yang sah-sah saja dilakukan. Semoga bermanfaat !

Minggu, 19 Mei 2013

Kekayaan Alam Indonesia


Indonesia adalah negara yang kaya raya. Potensi kekayaan alamnya sangat luar biasa, baik sumber daya alam hayati maupun non hayati. Kita akan kelelahan jika menghitung banyaknya kekayaan yang ada di Indonesia. Flora dan fauna yang beraneka ragam, sehingga ada banyak klasifikasi ilmiah yang hanya bisa dijumpai di negeri ini. Bahkan Indonesia juga menjadi negara yang memiliki spesies pohon palem terbanyak di dunia.
Selain itu, kekayaan non hayatinya juga melimpah ruah. Aneka bahan tambang terkandung di dalam perut bumi Indonesia. Diantaranya, minyak bumi, batu bara, gas alam, dan sebagainya. Akan tetapi, aneka bahan tambang tersebut merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Dalam kegiatan eksplorasi kekayaan alam baik sumber daya alam hayati maupun non hayati tidak boleh mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sebagai contoh dalam menangkap ikan di laut tidak boleh menggunakan bom peledak karena tidak hanya merusak lingkungannya, namun juga akan merusak biota laut lainnya. Oleh karena itu, dalam mengeksplorasi harus menjaga lingkungan demi kelestarian sumber daya alam.
Mirisnya, malah kekayaan alam yang seharusnya dinikmati masyarakat Indonesia lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang dari luar negeri kita. Misalnya emas yang ada di Papua dan hasil tambang lainnya yang dikuras dan dimakan oleh warga asing. Sedangkan WNI di sekitarnya hanya melongo kelaparan tanpa bisa mencicipi kekayaan ibu pertiwi. Sebagaimana sudah menjadi rahasia umum bahwa yang jadi kendala utama adalah teknologi. Kita sampai sekarang ini masih bergantung pada teknologi yang disajikan orang-orang barat, tanpanya kita tidak bisa mengeksplorasi tambang di tanah kita. Akan tetapi kita juga harus menjadi budak untuk bisa menikmati secuil hasil tambangnya. Pada akhirnya kita malah benar-benar rugi ketika sudah terikat kontrak bisnis pertambangan. Kita ingin terus terpuruk sebagai budak merupakan jalan hidup yang konyol, namun kita ingin lepas dari label budak pun akan ada banyak ranting-ranting berduri yang akan menjerat gerak kita.
Kesejahteraan rakyat NKRI yang sering kita dengar bagai nyanyian mungkin saja menjadi kenyataan jika kita bisa memaksimalkan kekayaan SDA yang ada di bumi Indonesia ini. Namun akan sangat sulit jika tingkat pendidikan yang dimiliki masih sangat minim. Kita hanya tinggal memilih antara menjadi budak di tanah sendiri dengan kebodohannya atau menjadi tuan atas tanahnya dengan kepandaiannya. Semoga kesejahteraan masyarakat Indonesia yang merata bisa segera terwujud.


Kamis, 18 April 2013

Abu Nawas dan Orang-Orang Kanibal


Abu Nawas baru pulang dari istana setelah di panggil baginda. Ia pergi berjalan-jalan ke perkampungan badui . dilihatnya rumah besar, terdapat kerumunan orang berkumpul, ternyata orang badui menjual bubur haris.  Tapi abu nawas tidak masuk, ia berkeliling desa ditemukanlah pohon rindang nan sejuk. Di situlah Abu Nawas beristirahat, sampai-sampai ia tertidur. Ia tak tahu berapa lama ia tertidur. Tahu-tahu ia dilempar ke lantai tanah. Brak! Ia pun terbangun.
“kurang ajar!” ujarnya kesal, tahu-tahu ia berada di penjara.
“keluarkan aku !” teriaknya lantang, tak berapa lama, orang badui datang kepadanya. Ia ingat dialah penjual bubur haris di rumah itu. 
“kenapa aku dipenjara?” ujarnya.
“Kau akan disembelih dan dijadikan campuran bubur haris.”
“Hah? Jadi bubur itu bubur manusia?”
“Tepat.”
“Darimana kalian mendapatkan dagingnya?”
“ Saat ada orang lewat atau masuk desa kami, kami tangkap dan kami sembelih”
Mendengar hal itu, ia pun tercengang, ia mencari ide meloloskan diri. Ia heran akan kondisi kebudayaan desa ini.
“Tunggu dulu, sebelum aku disembelih, aku punya teman gemuk, dagingya bisa kalian makan lima hari. Besok kubawakan dia.”
“Benarkah?”
“Aku tidak pernah bohong.” Orang itu menatap tajam ke arah mata Abu, mempertimbangkannya, entah kenapa dia percaya.
“Baiklah.”
Keesokan harinya, Abu Nawas langsung menghadap baginda, ia pun bercerita tentang bubur haris serta kesejukan desa itu. Abu mengajak baginda tuk berkunjung ke sana. Dengan berpakaian layaknya orang biasa, mereka pun berangkat. Beliau menikmatinya, mulai dari bubur haris, dan kesejukan desa. Akhirnya baginda merasa lelah, beliau beristirahat di bawah pohon rindang bersama Abu.
“tuanku jangan tidur dulu, hamba pamit buang air kecil di sana.”
“baik, Abu Nawas” baru Abu pergi, baginda sudah tertidur. Begitu bangun beliau mengalami apa yang pernah Abu Nawas alami. Beliau berpikir keras untuk bisa lolos.
“Dengan menjual bubur haris, berapa penghasilanmu sehari?”
“50 dirham!”
“Cuma segitu? aku bisa memberimu 500 dirham dengan menjual topi buatanku. Cukup berikan aku kain. Besok kau bisa menjualnya. Setelah lama mempertimbangkan. Orang itu berbalik lalu kembali dengan kain itu. Keesokan harinya.

“juallah topi ini kepada menteri Farhan.” Orang itu berangkat menuju isatananya. Dan menjual topinya pada  farhan seharga 500 dirham. Namun Farhan menemukan makna topi itu, yakni dari surat baginda. Farhan mengutus prajurit untuk mengikutinya. Dan saat kembali dia melaporkan kebudayaan di sana. Farhan mengutus seribu tentara tuk bertindak, menangkap orang kampung tersebut.

Rabu, 03 April 2013

UN 2013, Ujian Kita ?



UN (Ujian Nasional) 2013 mempunyai sedikit perbedaan dengan UN pada tahun-tahun sebelumnya. Diantaranya adalah kebijakan kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) dalam menambah variasi soal dari yang sebelumnya berjumlah 5 variasi, kini ditingkatkan menjadi 20 variasi soal. Kemendikbud juga membuat kebijakan menambah tingkat kesulitan soal sebesar 10% dari sebelumnya. Tak hanya itu, UN kali ini diterapkan sistem Baracode. Soal dan lembar jawaban UN mempunyai kode yang sama, maka peserta harus megisikan jawaban pada lembar jawaban yang mempunyai kode yang sama seperti yang tercantum dalam soal. Akan lebih sedikit kemungkinan berbuat curang seperti tukar menukar soal atau lembar jawaban.
Banyak pihak yang khawatir mengenai beberapa kebijakan diatas. Kebijakan ini dinilai malah mempersulit siswa dalam pelaksanaani ujian. Beberapa siswa mengakui bahwa kebijakan ini menghambat mereka, baik secara fisik dan mental. Mereka merasa belum siap dengan kebijakan baru dari pemerintah ini.
Namun disamping itu, beberapa pihak lain menganggap kebijakan ini merupakan yang terbaik, mereka mendukung kebijakan-kebijakan baru ini. Mereka ingin memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Mereka merasa sangat siap dan menanti akan datangnya UN 2013, tentunya itu didasari dengan persiapan-persiapan yang matang. Seperti mengikuti pelajaran tambahan, latihan soal-soal UN dan taklupa melantunkan sholawat dan doa-doa.
UN 2013 yang mempunyai sitem pelaksanaan baru bagaikan suatu ujian bagi kita. Namun hal ini bukan merupakan ujian atau rintangan yang berarti bagi kita apabila rintangan tersebut kita lewati dengan persiapan yang matang. Tergantung kesiapan masing-masing individu yang memaknai apakah UN 2013 merupakan rintangan, atau salah satu upaya memajukan pendidikan bangsa.


Penulis : M. Arif Furqon

 

Membuat Rumah Menjadi Lebih Luas



Suatu hari ada seorang laki-laki yang berkunjung ke rumah Abunawas untuk berkonsultasi, kebetulan saat itu Abu Nawas sedang berada di rumah. Kemudian laki-laki itu mengutarakan keluhannya.
“Wahai Abunawas, aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia.”
Kemudian Abu Nawas bertanya kepada orang itu. “Punyakah engkau seekor domba?
“Tidak, tapi aku mampu membelinya.” Jawab lelaki itu.
“kalau begitu belilah seekor dan tempatkanlah domba itu dalam rumahmu.” Abu Nawas menyarankan.
        Ia langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abu Nawas. Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi tambah lebih buruk daripada sebelumnya.” Keluh orang itu.
“Kalau begitu tambahkan lagi beberapa ekor unggas kedalam rumahmu.” Kata Abu Nawas menyarankan.
        Tanpa membantah, orang itu langsung membeli beberapa ekor unggas dan menempatkannya dalam rumah. Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, aku telah melakukan semua yang kau sarankan, tetapi aku dan keluargaku malah tidak betah tinggal di rumah.” Kata orang itu dengan wajah muram.
“Kalau begitu belilah seekor unta dan peliharalah di dalam rumahmu.” Kata Abu Nawas menyarankan.
Tanpa membantah orang itu langsung membeli seekor unta dan menempatkannya di dalam rumah. Beberapa hari kemudin orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.
“Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang berubah menjadi lebih mengerikan dari hari-hari sebelumnya. kami sudah tidak betah tinggal bersama hewan-hewan itu.” Kata orang itu putus asa.
“Baiklah, jika kalian sudah merasa putus asa maka juallah dombamu.” Kata Abu Nawas.
        Tanpa membantah orang itu langsung menjual dombanya.  Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.
“Keadaannya lebih baik sekarang, karena domba itu sudah tidak disini lagi.” Kata orang itu tersenyum.
“Baiklah kalau begitu juallah unta dan unggas-unggasmu.” Kata Abu Nawas.
Tanpa membantah orang itu langsung menjual unta dan unggas-unggasnya. Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu lagi.
“Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.
“Keadaannya lebih menyenangkan sekarang, karena unta dan unggas-unggas itu sudah tidak disini lagi. Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena hewan-hewan itu sudah tidak ada disini lagi. Kami mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepadamu Abu Nawas.” Kata orang itu dengan wajah berseri-seri.
        Dari cerita ini dapat kita ambil bahwa batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiran kita saja. Kalau saja kita selalu bisa bersyukur atas nikmat dan karunia Allah, maka Allah akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiran kita.


Penulis : M. Adam Abdullah